Month: April 2017

28 April, 2017

Penjaminan Kredit Semakin Melejit

Industri penjaminan kredit diramal punya prospek yang lebih cerah lagi di tahun 2017 ini. Makin gencarnya penyaluran kredit ke sektor UMKM menjadi salah satu faktor pendorong makin kencangnya laju bisnis.

Pelaksana Tugas Ketua Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) Dian Askin Hatta memprediksi, outstanding penjaminan kredit bisa mencatatkan pertumbuhan antara 35%-40%.

Proyeksi ini lebih tinggi dari realisasi tahun lalu yang meningkat 31,2% dari akhir 2015.Sampai akhir 2016, outstanding penjaminan kredit tercatat sebesar Rp 133,5 triliun. Artinya sampai tutup tahun 2017, nilai outstanding penjaminan kredit yang dicatatkan akan menembus Rp 187 triliun.

Setidaknya hingga bulan Februari 2017 saja, pelaku usaha di sektor ini sudah mencatatkan volume penjaminan kredit sebesar Rp 138,8 triliun. Angka ini naik 35,2% secara year on year. Segmen penjaminan kredit produktif menjadi penopang kinerja di awal tahun 2017. Nilai outstanding penjaminan usaha produktif melejit 68,8% menjadi Rp 74,3 triliun.

Sedangkan untuk penjaminan usaha non produktif tumbuh 10,2%. Yakni dari Rp 58,5 triliun menjadi Rp 64,5 triliun. Menurut Dian, makin besarnya penyaluran kredit ke UMKM baik lewat program kredit usaha rakyat (KUR) maupun yang bukan, akan menjadi pendorong bisnis. Bahkan bila makin banyak perusahaan penjaminan kredit daerah (jamkrida) yang bisa mencicipi penjaminan KUR, angka penjaminan kredit bisa lebih kencang lagi.

Chusnul Maarif, Direktur Utama Jamkrida Jakarta mengatakan, sudah ada beberapa ekspansi yang dilakukan sejak tahun lalu. Tahun ini, Jamkrida DKI Jakarta menaikkan target volume penjaminan kredit sekitar 42,7% dari tahun lalu menjadi Rp 1,67 triliun.

Sementara Perum Jamkrindo mematok target volume penjaminan kredit senilai Rp 135,2 triliun alias naik 17,4% dari tahun lalu. Direktur Jamkrindo Bakti Prasetyo mengakui segmen KUR masih akan menjadi tulang punggung. Namun, untuk segmen non KUR tetap mendapat perhatian yang cukup besar.

Sumber: KONTAN

12 April, 2017

IndoFintech 2017: Strategi FinTech Merebut Peluang Pasar Indonesia

Jakarta – Pada hari Kamis (30/03) bertempat di Wisma Antara Jakarta, berlangsung seminar sehari Indo FinTech 2017 yang diadakan oleh Royal Media Integrated Communication bersama Dewan Kehormatan PWI Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan Koran SINDO bertema “Strategi FinTech Merebut Pasar Indonesia”. Maksud dan tujuan dari seminar ini disampaikan oleh Amy Ibrahim Atmanto, CEO Royal Media Integrated Communication , selaku Ketua Panitia penyelenggaraan Indo FinTech 2017, disebutkan bahwa acara Indo FinTech 2017 diadakan sebagai bentuk upaya mendorong perkambangan industry dan layanan FinTech di Tanah Air.

Di tengah gelombang perubahan yang tengah berlangsung di era digital saat ini, perlu upaya bersama untuk bahu membahu seluruh pemangku kepentingan di industri dan layanan FinTech agar masyarakat di Tanah Air mendapatkan manfaat maksimal dari perkembangan yang sedang berlangsung saat ini.

“Dan pada waktunya Indonesia memiliki industri FinTech yang kokoh dengan segenap perangkat aturan main yang mampu menampung manfaat, kompleksitas, dan mampu mengendalikan risiko yang menyertainya,” jelas Amy.

Pentingnya Indo FinTech 2017 ini terlihat dari dukungan berbagai pihak, khususnya dukungan pernuh dari regulator, baik OJK dan Bank Indonesia, peneliti maupun pelaku industri FinTech di Tanah Air. Hadir sebagai Keynote Speech adalah Ketua Komisaris OJK, yaitu Muliaman D. Hada yang diwakili oleh Fithri Hadi, Direktur Operasional dan Sistem OJK.

Sedangkan sebagai pembicara disesi pertama adalah Hendrikus Passagi, Peneliti Eksekutif Senior Departemen Kebijakan Strategis OJK yang membawakan materi tentang “Persiapan Regulasi Baru Bisnis FinTech”. Kemudian, Bhima Yudhistira, Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef) yang menyajikan materi tentang “Dampak FinTech terhadap Perbankan”.

Sementara itu, di sesi kedua tampil Yosamartha, Direktur FinTech Officer Bank Indonesia yang membawakan materi tentang “Pengaturan Tata Kelola Manajemen FinTech”. Setelahnya, turut naik panggung pula Geert Warlop, Deputy Director TrueMoney International yang membawakan materi tentang “Transaksi Start-Up di Tengan Arus Digitalisasi Indsutri Keuangan di Indonesia”. Diskusi ini juga dihadiri oleh M. Ajisatria Sulaiman, Direktur Asosiasi FinTech Indonesia yang memaparkan pandangannya tentang “Operasional FinTech vs Legalitas”.

Dalam makalahnya, Bhima Yudhistira memaparkan bahwa kehadiran FinTech membawa ancaman sekaligus peluang untuk industri perbankan. Dari sisi peluang, kehadiran FinTech akan menyebabkan perbankan melalukan digitalisasi dan otomatisasi. Langkah ini akan memangkas biaya perbankan sekitar 30%. Sedangkan dari sisi pendapatan akan bertambah Karena kehadiran produk inovasi baru dan model bisnis yang inovatif.

Bhima saat memaparkan materi. Via: SINDO Foto

Di sisi lain, FinTech juga merupakan ancaman bagi perbankan. Dampak digitalisasi perbankan akan memangkas margin sekitar 1.6%. Lalu ancaman berupa produk inovatif kompetitor dan bertambahnya risiko operasional.

“Kendati FinTech mulai mengintip, bisnis perbankan masih terbilang gemuk,” kata Bhima.

Margin bunga atau Net Interest Margin (NIM) perbankan misalnya di Januari 2017 lalu masih 5.39%, turun dibandingkan Januari 2016 di 5.63%. Sementara biaya operasional dibandingkan pendapatan nasional (Bopo) sudah diangka 83.9%. Naik dibandingkan Desember 2016 yang masih 82.2%.

Peluang FinTech sendiri di Indonesia cukup besar. Bhima memaparkan, hanya 13.1% masyarakat yang meminjam uang (pembiayaan) dari jasa keuangan. Mayoritas di meminjam dari teman atau keluarga sebesar 41.5% dan sedikit dari rentenir 2.9%.

Berdasarkan data OJK, di tahun mayoritas FinTech bertarung di sector Payment sebanyak 44%. Selanjutnya Aggregator dan Lending masing-masing 15%. FinTech memiliki beberapa keunggulan, yakni menurunkan biaya (efisiensi), diferensiasi, dan menambah loyalitas.

Infrastruktur yang menunjang FinTech di Indonesia sudah terbentuk. Misalnya pengguna layanan komunikasi mencapai 281.9 Juta, di atas jumlah penduduk yang hanya 255 Juta Jiwa. Persentase pengguna layanan komunikasi terhadap penduduk 110.5%. Padahal umur FinTech baru seumur jagung. Bandingkan dengan pemilik rekening bank hanya 90 juta dari jumlah penduduk di Indonesia atau 36% dari total warga negara Indonesia.

Kehadiran FinTech juga menghindari shadow banking alias bank gelap. Maka perlu regulasi yang melindungi nasabah dan bisnis ini. Bhima mengusulkan adanya peubahan aturan FinTech, yakni POJK No. 77/2016 Pasal 4 tentang Modal Minimal 1 Milyar saat mendaftar dan Rp 2.5 Milyar saat mengajukan perizinan. Batas waktu penambahan modal 1 tahun sejak terdaftar OJK (Pasal 10) Pasal 6 batas maksimum pemberian pinjaman Rp 2 Milyar.

Sedangkan pembicara sesi kedua adalah M. Ajisatria Sulaiman memaparkan tentang jenis-jenis FinTech. Salah satunya adalah FinTech 2.0 yang berupa lembaga jasa keuangan yang menawarkan solusi konvensional dan sudah lama diatur oleh negara, contohnya adalah Bank, Asuransi, Sekuritas, dll. Keunggulannya adalah modal yang besar, nasabah, dan kepercayaan konsumen. Lalu berikutnya adalah FinTech 3.0, yakni perusahaan teknologi yang menawarkan model bisnis baru yang baru saja diatur oleh negara, contohnya adalah Peer to Perr Lending, Dompet Elektronik, Payment Gateway, dll. FinTech jenis ini memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan adaptasi pengembangan produk.

“FinTech menyediakan solusi diberbagai bidang,” ungkap Ajisatria.

Pertama, pedagang kaki lima misalnya, mereka mungkin tidak selalu memiliki smartphone. Lalu dapatkah mereka menerima pembayaran dengan uang elektronik? Solusinya yaitu dengan QR (DimoPay, Go-Pay, dll).

Kedua, pengusaha start up yang berjualan di Instagram. Belum memiliki kantor, belum memiliki badan hokum yang jelas. Dapatkah mendapatkan pembayaran melalui kartu kredit? Tentu bias dengan cara merchant acquiring services – internet payment gateway.

Ketiga, pengusaha industri kreatif yang bergerak dibidang Event Organizer. Ia tidak memiliki aset, tapi memiliki kontrak pekerjaan dengan perusahaan besar seperti Unilever, Shell, dll. Mungkinkah dapat menerima pinjaman dari Bank? Tentu bisa dengan Invoice Financing Based on P2P Lending.

Keempat, pedagang ritel, memiliki 5 rekening bank yang berbeda. Ia kesulitan mengelola arus keuangan. Tidak ada bank yang memiliki advance features untuk kebutuhan bisnisnya, misalnya auto-debet nasabah atau multidisbursement ke ratusan pelanggannya, contoh payroll karyawan. Dengan FinTech Account Aggregator dan API Connected Service, di pedagang ritel tersebut sudah memiliki jawabannya.

Keenam, pegawai swasta yang bingung mengambil KTA yang cocok. Produk Aggregator membandingkan informasi produk dan mendapat fee dari bank. Solusinya adalah Financial E-Commerce, membandingkan produk dan memroses pembelian.

Berdasarkan riset Statistia, di tahun 2017 ini total transaksi FinTech diperkirakan US$ 18.64 Milyar. Dari jumlah itu, mayoritas mengalir ke Digital Payment sebesar US$ 18.61 Juta. Business Finance US$ 14 Juta dan Personal Finance US$ 20 Juta.

Potensi FinTech di Indonesia masih sangat besar. Pasarnya adalah 49 juta UMKM yang un-bankable, lalu GAP kebutuhan pembiayaan nasional dan kapasitas perbankan Rp 988 Triliun. Sementara Peer to Peer Lending baru di bawah Rp 150 Milyar.

Asosiasi FinTech Indonesia sendiri terdaftar secara resmi di Kemenkumham pada Maret 2017. Dan sejak saat itu telah menjalin kerjasama erat dengan regulator dalam perumusan kebijakan dan agenda FinTech dalam skala nasional.

Indo FinTech 2017 pada 30 Maret 2017 yang lalu tersebut merupakan seri pertama dari tiga rangkaian seminar. Selanjutnya, Indo FinTech 2017 kedua akan berlangsung di bulan Mei 2017 serta akan melibatkan industri perbankan, pelaku start-up, dan konsumen. Sementara itu, Indo FinTech 2017 ketiga akan diselenggarakan menjelang akhir tahun, dan akan membedah FinTech, Lifestyle, dan Benefitnya.

10 April, 2017

Kerek KUR ke Sektor Pangan, Penjaminan Harus Naik

Perbankan tidak bisa dipaksa menyalurkan kredit kepada siapa saja, termasuk ke para petani, peternak, dan nelayan. Continue reading

Scroll to top