Month: November 2018

27 November, 2018

5 Kesalahan Fatal Pelaku UKM, Nomor 4 Bikin Bangkrut!

Memiliki usaha sendiri adalah impian bagi kebanyakan orang. Namun, bisa mempertahankan usaha dan menjalankannya terus menerus adalah suatu tantangan. Tak jarang terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan pelaku UKM (Usaha Kecil Menengah) saat menjalankan usahanya. Simak lima kesalahan pelaku UKM dalam mengelola keuangan.

Jumlah entrepreneur di Indonesia hingga saat ini mencapai sekitar 3,01% dari total populasi penduduk. Jumlah ini cukup meningkat dibanding beberapa tahun ke belakangan yang hanya mencapai sekitar 1,5%. Presiden Joko Widodo sendiri menyatakan standar jumlah entrepreneur adalah sekitar 14%.

Indonesia memang tertinggal jauh dibandingkan dengan negara lain yang jumlah pelaku usahanya lebih banyak. Di Indonesia, para entrepreneur dalam hal ini pelaku usaha kecil menengah (UKM) masih banyak kurang pemahaman terkait manajemen bisnis.

Salah satu alasan kenapa keberadaan entrepreneur di Indonesia masih belum berkembang karena terdapat kesalahan dalam pengelolaan keuangan mereka. Berikut lima kesalahan pengelolaan keuangan yang harus menjadi pelajaran para pelaku UKM yang dikutip dari Cekaja.com. Yuk cek!

  1. Masih menggunakan rekening bersama

Tidak sedikit para pelaku UKM yang masih menggunakan rekening pribadi untuk menyimpan pemasukan dan pengeluaran keuangan mereka. Kesalahan paling mendasar ini menyebabkan uang pribadi dan uang hasil usaha tercampur sehingga menyulitkan saat pengelolaan anggaran.

Seharusnya para pelaku UKM harus bisa memisahkan mana rekening pribadi dan mana rekening khusus untuk usaha. Ini penting dilakukan agar tidak ada lagi uang yang tercampur.

Keuntungan memiliki rekening terpisah adalah alur kas bisa dikontrol. Apalagi, usaha yang dilakoni adalah toko online atau online shop yang memungkinkan setiap transaksinya menggunakan transfer lewat rekening bank.

Dengan demikian, bagi para entreprenuer khususnya pelaku UKM, bisa mulai dari sekarang untuk memisahkan mana rekening pribadi dan mana rekening khusus untuk bisnis.

  1. Tak punya catatan pengeluaran

Para pelaku UKM masih banyak yang belum terpapar pemahaman literasi bisnis. Artinya masih banyak pelaku UKM yang masih menggunakan cara konvensional dalam menjalankan bisnisnya.

Misalnya, seorang pedagang bakso dalam sehari mengeluarkan modal Rp300.000. Pendapatan yang diperoleh per harinya mencapai Rp600.000. Adapun laba bersihnya mencapai Rp200.000.

Dari pendapatan harian tersebut, ia mengalokasikan untuk modal, uang makan, dan kebutuhan keluarga lainnya tanpa mencatat secara jelas dan detail pengeluaran tersebut.

Baiknya, para pelaku UKM harus sudah membuat buku catatan, alur kas atau cashflow berapa pendapatan, laba, pengeluaran dan lain-lain.

Dengan mencatat alur kas atau uang yang masuk dan keluar akan meningkatkan pemahaman literasi keuangan dengan sendirinya. Sehingga catatan cashflow tersebut bisa membuat pelaku UKM profesional dalam mengelola keuangan bisnisnya.

Ingat, hampir semua perusahaan besar bermula dari usaha kecil. Jika sejak menjadi pelaku UKM Anda sudah baik mengelola keuanga, maka bukan mustahil ketika perusahaan Anda akan semakin besar, manajerial keuangan perusahaan akan semakin baik.

  1. Masih menganut harga teman

Meskipun Anda sedang merintis usaha kecil-kecilan, namun Anda tetap harus profesional menjual produk kepada konsumen. Jangan sampai karena kedekatan keluarga, saudara, atau kerabat, Anda menjual produk dengan ‘harga teman’ kepada mereka.

Ingat, bisnis adalah bisnis. Bisnis tidak memandang orang terdekat sebagai pengecualian. Ketika Anda menjual baju atau celana dengan harga Rp200.000 kepada orang lain, bukan berarti Anda harus menjual Rp100.000 karena ‘harga teman’ kepada tetangga atau orang terdekat.

  1. Jualan laris, foya-foya

Mungkin salah satu dari Anda ada yang pernah atau sering mengalami dagangan laris. Biasanya ketika dagangan laris, Anda akan tergoda untuk membelanjakan hasil penjualan Anda untuk ‘foya-foya’.

“Dagangan gua laris nih. Kalian gua traktir deh, mau makan apa aja bebas.”

Contoh pernyataan di atas boleh-boleh saja dilakukan untuk sekedar mengapresiasi diri atas kinerja usaha Anda yang sedang bagus. Namun, jangan sampai kebiasaan tersebut dilakukan sesering mungkin.

Kembali lagi ke poin sebelumnya, usahakan uang hasil penjualan harus tercatat dengan baik agar memudahkan saat mengevaluasi bisnis Anda ke depan.

  1. Hasil usaha tidak diinvestasikan

Setiap menjalankan bisnis, seseorang harus memiliki rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Artinya, bisnis yang dijalankan harus bertahap dari UKM, menengah hingga menjadi perusahaan besar.

Pengembangan bisnis tentu saja tidak akan berhasil jika keuntungan yang didapat tidak pernah dialokasikan untuk tabungan atau investasi.

Oleh karena itu, setiap keuntungan usaha yang diperoleh setiap hari atau setiap bulannya sebaiknya dialokasikan untuk diinvestasikan.

Saat ini banyak instrumen investasi yang bisa dijalankan oleh hampir seluruh masyarakat mulai dari emas, reksa dana hingga saham. Pemerintah saat ini tengah gencar mempromosikan agar masyarakat aktif berinvestasi di pasar modal seiring jangkauannya sudah semakin mudah.

Dengan belajar mengelola keuangan dari kesalahan-kesalahan seperti di atas, maka niscaya bisnis yang dijalankan akan lebih berkembang. Dengan begitu, target jumlah entrepreneur di Indonesia perlahan bisa lebih besar atau tidak stagnan di angka 3,01%.

 

Sumber: Okezone

27 November, 2018

Peran e-Commerce Dorong Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Kreatif

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengapresiasi hadirnya marketplace-marketplace digital atau e-commerce yang tumbuh subur di Indonesia. Menurutnya kehadiran marketplace tersebut turut mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia.

Dia bilang, e-commerce telah menjadi kebutuhan di Indonesia. Kebutuhan tersebut memicu tumbuhnya para pelaku ekonomi baru di Indonesia, termasuk yang bergerak dalam ekonomi kreatif untuk membantu memasarkan produknya lebih luas lagi.

“Jadi daya ungkitnya cepat dan kencang. Akselerasi kita kalau nggak ada marketplace, nggak bisa. Ini gara-gara marketplace yang juga gencar sekali memberikan kemudahan-kemudahan insentif kepada konsumen dan membuat kita semua ketagihan,” katanya saat ditemui di kawasan Nusa Dua, Bali, seperti ditulis Jumat (9/11/2018).

“Dulu waktu ada marketplace, mikirnya ngapain sih belanja online. Enakan jalan-jalan. Tapi terus ditingkatkan servisnya, kemudahannya, akhirnya menyerah juga konsumen kan,” tambahnya.

Salah satu marketplace yang tengah populer di Indonesia adalah Shopee. Di platform yang disediakan oleh e-commerce tersebut banyak menjual produk dari Usaha Kecil Menengah (UKM) buatan dalam negeri yang bahan bakunya juga berasal dari Indonesia.

Di Shopee sendiri, jenis produk yang paling laku dijual adalah fesyen, di mana 80% di dalamnya merupakan usaha milik UKM.

Head of Government Relations Shopee Indonesia Radityo Triatmojo mengatakan produk-produk dari UMKM tersebut bahkan digemari oleh banyak orang. Hal tersebut terbukti dari pertumbuhan penjualan produk fesyen dan kuliner yang mereka hadirkan lewat program Kreasi Nusantara.

“Ketika kita naikkan kreasi nusantara, memang fesyen dan kuliner kuat sekali. Dan begitu kita push, waktu tiga bulan pertama, dia naik tiga kali. Tapi sekarang sudah naik hampir 10 kali order per harinya. Jadi memang sebenarnya sangat sale able, tapi aksesnya nggak banyak. PR nya juga nggak banyak, karena produknya sudah bagus dan demand-nya memang ada,” ucapnya dalam kesempatan yang sama. (eds/ara)

 

Sumber: Detikcom

27 November, 2018

Hanif Dorong UMKM Manfaatkan Marketplace Online

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M Hanif Dhakiri, meminta kepada Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk berinovasi dengan menciptakan dan memperkuat marketplace berbasis online. Hal ini dilakukan untuk mendukung pemasaran produk-produk UMKM.

“Era revolusi industri 4.0 ini harus disiasati. UMKM harus berinovasi dengan mendorong tumbuhnya marketplace baru yang bisa menjadi tempat untuk berjualan dan memaksimalkan pemasaran dari produk-produk UMKM,” ujarnya, di acara Pesta Retail Nasional yang diselenggarakan PT HM Sampoerna di Serpong, Tangerang, Kamis (22/11/2018).

Hanif mengatakan, pemerintah terus mendorong UMKM agar semakin inovatif dalam proses produksi, pengemasan distribusi, dan marketing.

“Peluang bisnis di pasar online masih sangat terbuka luas bagi pelaku UMKM. Hal ini harus dimanfaatkan untuk memperluas jaringan distribusi dan pemasaran, sehingga bisnis UMKM semakin menguntungkan,” ucapnya.

Bahkan, lanjut Hanif, ke depannya penggunaan platform atau aplikasi yang berbasis digital menjadi sangat penting digunakan oleh pelaku UMKM agar bisnisnya terus maju dan membesar. Ia ingin aplikasi yang mendukung marketplace baru bagi UMKM yang muncul murni buatan orang Indonesia.

“Platform-nya harus diisi produk kita. Jangan sampai platform-nya bagus dan besar tapi isinya produk orang lain, uangnya juga uang orang lain. Saya ingin kalau punya marketplace yang besar, uangnya milik Indonesia, produknya milik Indonesia,” kata Hanif.

Lanjutnya, perekonomian Indonesia didominasi oleh UMKM. Namun, kontribusi UMKM terhadap perekonomian negara masih kecil. Pasalnya, sebagian besar UMKM masih dikelola secara informal dan tradisional.

“Tantangan kita ke depan harus memastikan agar terjadi transformasi UMKM dari ekonomi informal menjadi ekonomi formal, sehingga sumbangannya terhadap peningkatan kesejahteraan dan ekonomi nasional semakin besar,” ujar Hanif.

Berdasarkan pengalaman, imbuhnya, UMKM merupakan bantalan ekonomi yang paling kuat ketika Indonesia mengalami krisis di masa lalu. Untuk itu, UMKM harus dikembangkan.

“UMKM di Indonesia sangat penting karena kita tahu ekonomi di Indonesia didominasi UMKM sehingga dari waktu ke waktu kita harus memastikan UMKM bisa terus tumbuh, berkembang, dan produktif sehingga bisa menopang perekonomian nasional,” ucap Hanif.

Terakhir, ia mengucapkan selamat dan apresiasi atas terselenggaranya acara Pesta Retail Nasional yang merupakan wahana pertemuan seluruh retailer binaan sampoerna.

“Kita apresiasi kepada Sampoerna yang sudah bekerja keras selama bertahun tahun membantu memfasilitasi para retailer Indonesia untuk bisa lebih produktif dan bekerja lebih baik bagi kontribusi ekonomi di daerah maupun ekonomi nasional,” ucap Hanif.

Acara Pesta Retail Nasional diikuti 3000 retailer binaan Sampoerna dari seluruh Indonesia. Turut hadir pada kesempatan ini Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Dirjen PHI dan Jamsos Haiyani Rumondang, serta para pimpinan perusahaan Sampoerna.

 

Sumber: Liputan6.com

12 November, 2018

OJK Dorong Fintech Tingkatkan Pendanaan ke UMKM

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong penggunaan Fintech sebagai platform inklusi keuangan dalam meningkatkan akses pendanaan bagi segmen UMKM dan Keuangan Syariah. Untuk mendukung pengembangan fintech, OJK sudah mengeluarkan berbagai ketentuan pengaturan dan pengawasan dengan tetap mengedepankan perlindungan konsumen dan menjaga stabilitas keuangan.

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida mengatakan, fintech memiliki tingkat penetrasi yang tinggi yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyasrakat terutama bagi segmen yang tidak memiliki akses luas terhadap keuangan seperti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Fintech memiliki kekuatan penetrasi besar yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat, terutama mereka yang tidak memiliki akses keuangan yang tepat serta untuk UMKM,” kata dia dalam pembukaan seminar OJK Fintech Talk “Utilizing Fintech as a Platform for Platform for Enhancing SMEs and Islamic Financing” di Bali, Jumat (12/10/2018).

Mempertimbangkan masih rendahnya penetrasi keuangan syariah di Indonesia, fintech juga dapat digunakan sebagai alat untuk memperluas cakupan keuangan syariah dan pencapaian untuk mewujudkan tujuan keuangan syariah. Dengan layanan dan produknya yang lebih mudah, fintech dapat mendorong industri keuangan Islam maju dan mengatasi masalah yang telah menghambat pertumbuhan keuangan syariah.

OJK juga telah mendirikan Fintech Center yang dinamakan OJK infinity (Innovation center for digital financial technology). Fintech Center ini bertujuan untuk menjadi ekosistem untuk tempat berdiskusi antarpelaku dan regulator serta stakeholders.

Berdasarkan Fintech Report 2017, terdapat kurang lebih 196 Fintech rintisan di Indonesia dengan total investasi mencapai USD 176.75 million dan produk serta bisnis model yang baru. Hal yang sama terlihat dalam perkembangan model fintech peer to peer lending di Indonesia yang sampai Agustus 2018 mencapai 70 perusahaan dengan akumulasi nilai pinjaman Rp11,68 triliun, tumbuh 355,73% (ytd).

“Jumlah rekening pemberi pinjaman sebanyak 150.061 entitas atau tumbuh 48,66% (ytd) dan rekening peminjam mencapai 1.846.273 entitas atau tumbuh 611,10% (ytd),” paparnya. Adapun Segmen Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memiliki peran besar dalam perekonomian negara berkembang karena mencakup 60% dari lapangan pekerjaan dan memberikan kontribusi hingga 40% dari PDB.

Di Indonesia, berdasarkan data 2016 sebesar 99% perusahaan terkategorikan UMKM, mencakup 89% dari lapangan pekerjaan dan memberikan kontribusi 57% terhadap PDB negara. Menurut Nurhaida, gambaran ini menunjukkan potensi dari segmen tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun secara umum, segmen UMKM dikategorikan sebagai unbankable karena keterbatasan akan jaminan, sehingga akses terhadap pendanaan merupakan kendala utama bagi pertumbuhan ke depan.

Sementara itu, keuangan syariah merupakan salah satu cara pendaanan alternatif yang semakin menarik perhatian. Indonesia telah memiliki beberapa catatan pencapaian dalam keuangan syariah dimana Indonesia merupakan negara pertama yang menerbitkan Sukuk Retail dan mendirikan lembaga pendanaan mikro Baitul Maal Wat Tamwil.

Walaupun demikian, perkembangan keuangan syariah di Indonesia yang merupakan salah satu dari 10 negara dengan potensi ekonomi Islam terbesar, belum terasa optimal. Dengan mempertimbangkan rendahnya penetrasi keuangan Islam di Indonesia, fintech dapat digunakan sebagai alat untuk memperluas cakupan keuangan Islam dan penjangkauan untuk mewujudkan tujuan keuangan Islam.

“Dengan layanan dan produknya yang lebih nyaman, fintech dapat mendorong industri keuangan Islam maju dan mengatasi masalah yang telah menghambat pertumbuhan keuangan Islam di masa lalu,” pungkasnya.

 

Sumber: SINDONews

12 November, 2018

Fokus Sektor UMKM, Bank DKI Tambah Lagi 4 Kantor Layanan di Pasar

Bank DKI menargetkan diri menjadi bank pilihan bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Realisasi ini salah satunya tercermin dari penambahan empat kantor layanan Bank DKI baru setingkat Kantor Kas yang berada di pasar-pasar, diantaranya Pasar Malabar, Pasar Cileungsi, Pasar Muara Karang dan Pasar Cipinang. Peresmian empat kantor layanan ini dilakukan terpusat di Pasar Malabar.

Direktur Teknologi & Operasional Bank DKI, Priagung Suprapto, menyampaikan penambahan pembukaan empat lokasi kantor layanan di pasar ini adalah sebagai wujud komitmen Bank DKI dalam mendekatkan jangkauan layanan bagi pelaku UMKM khususnya yang ada di lokasi-lokasi pasar di Jakarta dan sekitarnya.

Sebelumnya, selama tahun 2018, Bank DKI telah membuka 4 kantor yang ada di pasar, terdiri dari Pasar Baru Bantar Gebang, Pasar Kranggan Mas, PGC Cililitan dan ITC Depok. Sehingga sampai dengan akhir Oktober 2018, total kantor Bank DKI yang ada di pasar sebanyak 79 kantor layanan dari total 279 Kantor Layanan yang dimiliki Bank DKI.

“Direncanakan sampai dengan akhir tahun 2018, Bank DKI akan menambah lagi 12 kantor yang ada di pasar, dan menambah beberapa kantor di rusun-rusun kelolaan Pemprov DKI Jakarta,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (30/10/2018).

Priagung menambahkan, untuk dapat memfasilitasi permodalan bagi para pelaku UMKM, Bank DKI memiliki produk kredit Mikro Monas 25, 75, dan 500 dengan plafon dari Rp25 juta hingga Rp500 juta yang dapat dimanfaatkan sebagai akses tambahan modal kerja maupun investasi.

Mulai awal Oktober 2018, Bank DKI juga sedang menggelar “Program Promo Pasar” di 5 lokasi pasar yaitu Pasar Induk Kramatjati, Pasar Tanah Abang Blok A, B, dan F, Pasar Cipulir, serta Pasar Senen Blok 1 sampai dengan 6 melalui program kemudahan proses persetujuan kredit satu hari disertai promo gratis asuransi, gratis administrasi dan gratis biaya survei.

Bank DKI juga bersinergi dengan Pemprov DKI Jakarta pada Program Kewirausahaan Terpadu. Bagi mereka yang baru merintis usahanya, Bank DKI menyediakan produk Monas Pemula yang merupakan fasilitas permodalan untuk modal usaha maupun investasi dengan plafon sampai dengan Rp10 juta dengan bunga yang kompetitif.

Sampai dengan September 2018, Bank DKI telah menyalurkan kredit mikro sebanyak Rp620 miliar. Secara year to date, tumbuh sebesar 32,7% dari posisi Desember 2017 sebesar Rp467 miliar dan secara year on year tumbuh 48,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp417 miliar. Peningkatan ini didorong oleh sejumlah ekspansi jaringan kantor Bank DKI di pasar-pasar DKI Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai upaya untuk merealisasikan salah satu misinya untuk mewujudkan masyarakat less cash, JakOne Mobile Bank DKI kini dapat digunakan untuk bertransaksi di pasar-pasar tradisional termasuk pasar-pasar kelolaan PD Pasar Jaya di DKI Jakarta. Hal ini merupakan wujud implementasi dukungan Bank DKI terhadap program cashless Pemprov DKI Jakarta.

Sampai dengan Oktober 2018, JakOne Mobile sudah dapat digunakan untuk bertransaksi di 36 pasar dengan rincian 31 pasar kelolaan PD Pasar Jaya dan 5 pasar tradisional di DKI Jakarta. Sejumlah pasar yang sudah dapat bertransaksi menggunakan JakOne Mobile diantaranya Pasar Senen Blok III & IV, Pasar Blok M, Pasar UPB Kramat Jati, Pasar Mayestik, Pasar Bendungan Hilir dan Pasar Jatinegara. Untuk bertransaksi, pengguna JakOne Mobile hanya perlu melakukan scanning pada Quick Response (QR) Code yang disediakan para pedagang pasar yang sudah bekerja sama dengan Bank DKI.

 

Sumber: SINDONews

12 November, 2018

Cara Instagram Dorong UMKM Go Online

Head of Emerging Business and SMBs Facebook dan Instagram South-East Asia, Ferdy Nandez, mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung program UKM Go Digital yang digalang Pemerintah.

Menurut dia, dukungan yang diberikan Instagram berupa edukasi dan pelatihan kepada calon pelaku usaha yang hendak go digital, maupun kepada pelaku yang sudah terlibat dalam bisnis digital dan hendak memperluas jaringan bisnis.

“Kami juga melakukan pelatihan, gratis tidak berbayar. Pelatihan tersebut kurang lebih sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh UMKM. Misalnya ada yang baru mau mulai kita berikan pelatihan yang dasar menggunakan fitur-fitur di Instagram. Ada juga kita berikan yang tingkat advance. Kita juga berikan training untuk fotografi,” kata dia, saat ditemui, di Kawasan GBK, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

“Ada juga pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga bagaimana caranya mencari job sampingan. Ini yang coba kita berdayakan karena mereka main Instagram setiap hari bagaimana bisa untuk bisnis juga,” lanjut dia.

Selain itu, Instagram kerap bekerja sama dengan pemerintah, misalnya dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Koperasi untuk memberikan pelatihan di berbagai wilayah di Indonesia.

Diharapkan dengan kegiatan sejenis, makin banyak pelaku UMKM yang didorong untuk dapat memasarkan dan memperluas cakupan bisnis secara online.

“Kita kerja sama dengan Kominfo, Kementerian Koperasi untuk laju digital, kita pergi dari barat Indonesia sampai timur. Terakhir kita akan ada di Manokwari. Kita akan ada di 15 kota. Per hari kita akan ada 600 sampai 800 UKM yang datang,” tandasnya.

 

Sumber: Liputan6.com

Scroll to top